Lingkungan yang Sejuk dan Indah


Dalam sebuah kehidupan sekarang banyak persoalan yang sangat rumit mulai  dari sebuah persoalan kecil hingga persoalan besar, semua itu di awali dan dipengaruhi dari sebuah lingkungan, lingkungan yang baik mempengaruhi perbuatan dan kelakuan yang baik, lingkungan yang buruk berpengaruh juga keburukan. Setiap tempat tinggal merupakan impian semua orang rumah yang sejuk indah bersih dan nyaman, dalam kehidupan meskipun sudah lama di senangi suatu hari akan menjadi sebuah kesedihan karena semua yang ada di dunia ini adalah hanya sementara.



Suatu hari ada seorang anak bertanya kepada ibunya, di teras rumah dengan dinginnya semilir angin malam hari:
Anak: "Ibu kenapa sekarang ini banyak polusi, kerusakan alam, dan banjir di mana mana?"
Ibu pun menjawab: "Anakku semua ini adalah karena pengaruh dari keadaan sekarang ini lihat diluar sana mereka buang sampah tidak pada tempatnya buang sampah di sungai yang bisa mengakibatkan banjir, menebang pohon-pohon yang tumbuh subur di hutan, penggunaan bahan bakar yang mencemari udara dan semua ini adalah perbuatan saudara-saudara kita yang ada di luar sana."
Anak: "Tapi, semua itu kan bisa dicegah kan, Bu?"
Ibupun menjawab lagi: "Iya, anakku. Semuanya bisa kita cegah dengan berbuat baik, membuang sampah pada tempatnya, menjaga lingkungan agar tetap bersih indah dan sejuk menanam pohon-pohon sebanyak mungkin. Semuanya akan indah, nak, jika kita bisa menjaga saling merawat. Namun, jika kita memporak porandakan kesatuan kita meluluh lantahkan urusan kita dan menciptakan perselisihan di antara kita maka semua itu akan hilang dan tak akan pernah kita temui lagi mungkin untuk anak cucu kita di kemudian hari tak akan bisa kita temui lingkungan yang sejuk, indah, damai dan asri."
Kata- kata indah dan menjaga lingkungan persaudaraan saling percaya akan menjadikan hidup lebih indah dan akan kita nikmati juga di masa akan datang.


Cintai Lingkungan, Yuk!


Akan sangat sulit untuk mengubah kebiasaan orang bila sudah terlambat. Contohkan aktifitas sehari-hari cinta lingkungan di rumah. Karena semua bermula dari keluarga.

Membuang Sampah
Membuang Sampah di Tempatnya. Ilustrasi/Foto: wordpress.com
Ajari anak mencintai kebersihan 
Jika mata anak terbiasa melihat lingkungan yang bersih, ia tidak akan merasa nyaman melihat lingkungan yang kotor. Beri contoh pada anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Tempat sampah bisa dipisah antara sampah anorganik dan organik.

Berbagilah tugas dengan anak-anak dalam membersihkan rumah. Selain kita mendidik mereka untuk mencintai kebersihan, kita juga mendidiknya untuk memiliki tanggung jawab dengan merawat benda-benda yang ia miliki. 

Ubah barang lama menjadi barang baru 
Jika setiap rumah menyumbang satu kotak sampah setiap harinya, bayangkan banyaknya sampah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir. Agar tidak banyak sampah menumpuk, gunakan kembali benda-benda yang sekiranya bisa dipakai. Ubah benda-benda lama menjadi benda-benda baru. Kotak susu atau kotak pasta gigi misalnya, bisa dikreasi menjadi tempat pensil. Kerjakan bersama anak kita, hingga bisa terjalin keakraban satu sama lain. 

Menanam Pohon
Menanam Pohon. Ilustrasi: dok.mombi

Ajak anak menanam tumbuhan 
Tanam satu pohon, maka kita sudah ikut membantu menyelamatkan lingkungan hidup. Kegiatan menanam tumbuhan bersama anak akan menjadi kegiatan menyenangkan. Ajak anak melihat proses pertumbuhan tanaman. Dari bibit hingga menjadi bunga atau buah. Sembari menanam, uraikan juga betapa pentingnya pohon untuk masa depan Bumi. 

Biasakan hemat energi 
Menghemat energi adalah salah satu cara mencintai lingkungan hidup. Biasakan anak-anak untuk mematikan keran air, lampu, dan alat-alat elektronik bila tidak diperlukan. Bila pergi ke tempat yang berjarak dekat, usahakan tak pakai mobil. Jalan kaki atau naik sepeda pasti lebih sehat dan hemat.


Mendaur Ulang
Mendaur Ulang. Foto: wordpress.com
Jika setiap orang peduli pada lingkungan hidup, maka Bumi kita tentu akan menjadi lebih baik. Ayo, tanamkan kebiasaan mencintai lingkungan hidup pada anak-anak kita. Yuk, kita selamatkan bumi!(Wien/Mombi)

Membudayakan Cinta Lingkungan Hidup melalui Dunia Pendidikan


Dulu, Indonesia dikenal sebagai sebuah negeri yang subur. Negeri kepulauan yang membentang di sepanjang garis katulistiwa yang ditamsilkan ibarat untaian zamrud berkilauan sehingga membuat para penghuninya merasa tenang, nyaman, damai, dan makmur. Tanaman apa saja bisa tumbuh di sana. Bahkan, tongkat dan kayu pun, menurut versi Koes Plus, bisa tumbuh jadi tanaman yang subur.
Namun, seiring dengan berkembangnya peradaban umat manusia, Indonesia tidak lagi nyaman untuk dihuni. Tanahnya jadi gersang dan tandus. Jangankan tongkat dan kayu, bibit unggul pun gagal tumbuh di Indonesia. Yang lebih menyedihkan, dari tahun ke tahun, Indonesia hanya menuai bencana. Banjir bandang, tanah longsor, tsunami, atau kekeringan seolah-olah sudah menjadi fenomena tahunan yang terus dan terus terjadi. Sementara itu, pembalakan hutan, perburuan satwa liar, pembakaran hutan, penebangan liar, bahkan juga illegal loging (nyaris) tak pernah luput dari agenda para perusak lingkungan. Ironisnya, para elite negeri ini seolah-olah menutup mata bahwa ulah manusia yang bertindak sewenang-wenang dalam memperlakukan lingkungan hidup bisa menjadi ancaman yang terus mengintai setiap saat.
Mengapa bencana demi bencana terus terjadi? Bukankah negeri ini sudah memiliki perangkat hukum yang jelas mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup? Bukankah Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Pendidikan Nasional telah membangun kesepakatan bersama tentang pendidikan lingkungan hidup? Namun, mengapa korban-korban masih terus berjatuhan akibat rusaknya lingkungan yang sudah berada pada titik nadir? Siapa yang mesti bertanggung jawab ketika bumi ini tidak lagi bersikap ramah terhadap penghuninya? Siapa yang harus disalahkan ketika bencana dan musibah datang beruntun menelan korban orang-orang tak berdosa?

Saat ini agaknya (nyaris) tidak ada lagi tanah di Indonesia yang nyaman bagi tanaman untuk tumbuh dengan subur dan lebat. Mulai pelosok-pelosok dusun hingga perkotaan hanya menyisakan celah-celah tanah kerontang yang gersang, tandus, dan garang. Di pelosok-pelosok dusun, berhektar-hektar hutan telah gundul, terbakar, dan terbabat habis sehingga tak ada tempat lagi untuk resapan air. Satwa liar pun telah kehilangan habitatnya. Sementara itu, di perkotaan telah tumbuh cerobong-cerobong asap yang ditanam kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Polusi tanah, air, dan udara benar-benar telah mengepung masyarakat perkotaan sehingga tak ada tempat lagi untuk bisa bernapas dengan bebas dan leluasa. Limbah rumah tangga dan industri makin memperparah kondisi tanah dan air di daerah perkotaan sehingga menjadi sarang yang nyaman bagi berbagai jenis penyakit yang bisa mengancam keselamatan manusia di sekitarnya.
Sebenarnya kita bisa banyak belajar dari kearifan lokal nenek moyang kita tentang bagaimana cara memperlakukan lingkungan dengan baik dan bersahabat. Meski secara teoretis mereka buta pengetahuan, tetapi di tingkat praksis mereka mampu membaca tanda-tanda dan gejala alam melalui kepekaan intuitifnya. Masyarakat Papua, misalnya, memiliki budaya dan adat istiadat lokal yang lebih mengedepankan keharmonisan dengan alam. Mereka pantang melakukan perusakan terhadap alam karena dinilai bisa menjadi ancaman besar bagi budaya mereka. Alam bukan hanya sumber kehidupan, melainkan juga sahabat dan guru yang telah mengajarkan banyak hal bagi mereka. Dari alam mereka menemukan falsafah hidup, membangun religiositas dan pola hidup seperti yang mereka anut hingga kini. Memanfaatkan alam tanpa mempertimbangkan eksistensi budaya setempat tidak beda dengan penjajahan. Namun, sejak kedatangan PT Freeport Indonesia, keharmonisan hubungan masyarakat Papua dengan alam jadi berubah. Saya kira masih banyak contoh kearifan lokal di daerah lain yang sarat dengan pesan-pesan moral bagaimana memperlakukan lingkungan dengan baik.

Namun, berbagai peristiwa tragis akibat parahnya kerusakan lingkungan sudah telanjur terjadi. “Membangun tanpa merusak lingkungan” yang dulu pernah gencar digembar-gemborkan pun hanya slogan belaka. Realisasinya, atas nama pembangunan, penggusuran lahan dan pembabatan hutan terus berlangsung. Sementara itu, hukum pun makin tak berdaya menghadapi para “bromocorah” lingkungan hidup yang nyata-nyata telah menyengsarakan jutaan umat manusia. Para investor yang nyata-nyata telah membutakan mata dan tidak menghargai kearifan lokal masyarakat setempat justru dianggap sebagai “pahlawan” lantaran telah mampu mendongkrak devisa negara dalam upaya mengejar pertumbuhan ekonomi dan daya saing bangsa.

Meskipun demikian, hanya mencari “kambing hitam” siapa yang bersalah dan siapa yang mesti bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan hidup bukanlah cara yang arif dan bijak. Lingkungan hidup merupakan persoalan kolektif yang membutuhkan partisipasi semua komponen bangsa untuk mengurus dan mengelolanya. Pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), semua warga masyarakat, dan komponen bangsa yang lain harus memiliki “kemauan politik” untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan hidup dari ulah tangan jahil para preman dan penjahat lingkungan. Hal itu harus dibarengi dengan tindakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan lingkungan hidup yang nyata-nyata telah terbukti menyengsarakan banyak umat manusia. Pedang hukum harus benar-benar mampu memancung dan memenggal kepala para penjahat lingkungan hidup untuk memberikan efek jera dan sekaligus memberikan pelajaran bagi yang lain.

Yang tidak kalah penting, harus ada upaya serius untuk membudayakan cinta lingkungan hidup melalui dunia pendidikan. Institusi pendidikan, menurut hemat saya, harus menjadi benteng yang tangguh untuk menginternalisasi dan menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa yang kini tengah gencar menuntut ilmu. Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat setempat perlu terus digali dan dikembangkan secara kontekstual untuk selanjutnya disemaikan ke dalam dunia pendidikan melalui proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Pola dan gaya penyajiannya pun tidak bercorak teoretis dan dogmatis seperti orang berkhotbah, tetapi harus lebih interaktif dan dialogis dengan mengajak siswa didik untuk berdiskusi dan bercurah pikir melalui topik-topik lingkungan hidup yang menarik dan menantang.
Lingkungan hidup yang disemaikan melalui dunia pendidikan tidak harus menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi disajikan lintas mata pelajaran melalui pokok-pokok bahasan yang relevan. Dengan kata lain, lingkungan hidup tidak cukup hanya menjadi tanggung jawab guru Geografi atau IPA saja, misalnya, tetapi harus menjadi tanggung jawab semua guru mata pelajaran.
Mengapa budaya cinta lingkungan hidup ini penting dikembangkan melalui dunia pendidikan? Ya, karena jutaan anak bangsa kini tengah gencar menuntut ilmu di bangku pendidikan. Merekalah yang kelak akan menjadi penentu kebijakan mengenai penanganan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Menanamkan nilai-nilai budaya cinta lingkungan hidup kepada anak-anak bangsa melalui bangku pendidikan sama saja menyelamatkan lingkungan hidup dari kerusakan yang makin parah. Dan itu harus dimulai sekarang juga. Depdiknas yang memiliki wewenang untuk menentukan kebijakan harus secepatnya “menjemput bola” agar dunia pendidikan kita mampu melahirkan generasi masa depan yang sadar lingkungan dan memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. Nah, bagaimana? ***